Monday, December 20, 2010

UAS Online

Topik yang saya pilih untuk diuraikan berdasarkan 7 komponen kontekstual adalah mengenai metode pembelajaran yang diterapkan dosen dalam psikologi belajar.

1. Constructivism : individu akan belajar dengan lebih bermakna bila individu menemukan sendiri informasi dan mengkonstruksi pengetahuan dalam dirinya.

Dalam mata kuliah psikologi belajar, dosen menugaskan setiap mahasiswa (yang dibagi dalam 5 kelompok) untuk membuat makalah untuk dipresentasikan. Dalam pembuatan makalah itulah terjadi proses konstruksi pengetahuan dimana mahasiswa mencari berbagai sumber untuk dapat dijadikan referensi dalam makalah tersebut.

Selain itu, dosen juga menugaskan setiap kelompok melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah. Melalui kunjungan, mahasiswa akan lebih dapat membangun pengetahuan dengan melakukan observasi di dalam kelas dimana setelah observasi setiap kelompok juga diminta membuat hasil observasi yang akan dikaitkan dengan teori. Proses pembuatan laporan tersebut sama dengan prinsip konstruktivis.

2. Inquiry : proses menemukan sendiri informasi berkenaan dengan hal yang dipelajar.i Konsep inquiry sebenarnya sudah masuk kedalam prinsip konstruktivis.

Sama seperti konstruktivis, dosen memberi tugas kepada mahasiswa ke lapangan sehingga mahasiswa dapat langsung menemukan sendiri informasi untuk digunakan dalam proses belajarnya.

3. Questioning : proses bertanya agar lebih memahami suatu materi.

Ketika presentasi selalu ada sesi tanya jawab. Dalam sesi tersebut, mahasiswa dapat bertanya kepada mahasiswa lain dan jika jawaban kurang memuaskan mahasiswa dapat langsung bertanya kepada dosen.

4. Learning community : pembentukan kelompok agar belajar dapat lebih efektif

Dalam kelas psikologi belajar, dosen membagi setiap mahasiswa menjadi 5 kelompok untuk melaksanakan tugas selama 1 semester. Pembentukan kelompok dilakukan agar mahasiswa dapat belajar dengan lebih maksimal.

5. Modeling : menggunakan model dalam proses belajar (model tidak hanya mahasiswa tetapi bisa juga mahasiswa lainnya)

Setelah menyiapkan laporan, 2 kelompok diminta mempresentasikannya. Laporan kelompok yang pertama diminta presentasi , banyak terdapat kesalahan. Dosen menjadikan kelompok tersebut sebagai model agar mahasiswa lainnya dapat lebih baik dalam revisi laporan masing-masing.

6. Reflection : cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari. Refleksi dapat dilakukan di akhir kelas.

Setelah presentasi dan sesi tanya jawab berakhir, Bu Ika selalu meminta mahasiswa untuk mengungkapkan apa yang telah mahasiswa dapat dari yang dipresentasikan. Mahasiswa juga diminta untuk membuat karya tulis dimana ketika pembuatan karya tulis itulah mahasiswa mengingat kembali teori yang telah dipelajari dan mengaitkannya pada pengalaman hidup.

7. Authentic assessment : mengumpulkan data dari berbagai sumber untuk dijadikan acuan dalam menilai performance.

Tugas- tugas selama satu semester (membuat resume, membuat karya tulis, presentasi, melakukan kunjungan dan membuat laporan) dan ujian yang dilakukan selama 2 kali dalam satu semester dapat dijadikan sumber data yang dapat digunakan dosen dalam melakukan penilaian.

Referensi :
Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)
http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/model-pembelajaran-contextual-teaching-learning-ctl/ (21 Desember 2010)

Wednesday, December 8, 2010

Try - Out Ujian Online 2

Proses pembelajaran yang terjadi selama proses TO berlangsung dapat dijelaskan dengan teori :

1. Thorndike
Penerapan teori ini dapat dijelaskan dengan konsep Hukum Kesiapan dimana dengan diadakannya try-out, mahasiswa yang mengikuti try-out akan lebih dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian yang sesungguhnya di Ujian Akhir Semester yang akan diadakan secara online.

2. Skinner
Dalam teori Skinner, dikenal konsep reinforcement. Misalnya, feedback yang diberikan Bu Dina dengan comment pada blog mahasiswa, contohnya pada postingan blog saya dimana Bu Dina memberikan comment” jika diberi skor, saya kira belum bisa mencapai 70” akan membuat saya lebih berusaha untuk lebih maksimal dalam kesempatan berikutnya.

3. Ausubel
Teori Ausubel adalah teori meaningful learning dimana belajar akan lebih bermakna ketika kita dapat mengaitkan pengalaman/apa yang telah kita pelajari dengan informasi baru. Beberapa soal di try-out ujian online mengharuskan setiap mahasiswa dapat mengaitkan teori-teori belajar yang telah dipelajari dengan pengalaman pada saat proses try-out ujian online berlangsung.

4. Bruner
Menurut Bruner, dalam proses belajar setiap individu dituntut untuk aktif. Dengan ujian secara online, mahasiswa dapat lebih aktif dalam mencari beberapa sumber referensi yang dapat digunakan untuk menjawab soal-soal yang diberikan.

5. Pask
Dalam proses try-out, dosen dan mahasiswa melakukan komunikasi melalui media online dimana tergabung dalam suatu group chat. Dalam group chat, kami dapat memberikan pertanyaan terhadap apa yang tidak dimengerti / tidak jelas. Disinilah terjadi proses conversation menurut teori Pask.

Referensi

Hergenhahn, B.R & Matthew H. Olson. 2009. Theories of Learning ed. 7. Jakarta : Kencana Prenada Media Group

Bigge, Morris. 1982. Learning Theories for Teachers. New York : Harper & Row

Thursday, December 2, 2010

Kelebihan dan Kekurangan Ujian online

Kekurangan

• Beberapa mahasiswa mungkin masih belum siap untuk pelaksanaan ujian online. Mungkin saja beberapa tidak memiliki laptop atau modem dan menggunakan wifi yang belum tentu bisa loading dengan cepat. Hal ini sama seperti Law of Readiness Thorndike dimana ketika mahasiswa tidak siap, ujian bisa saja terhambat dan hasil akhir tidak begitu maksimal.

Kelebihan

• Menurut saya, dengan pelaksanaan ujian online, individu dapat belajar suatu metode ujian yang berbeda dengan yang sebelumnya (konvensional) dimana setiap individu perlu untuk terus meng-update informasi dan struktur kognitif untuk mengikuti perkembangan zaman.

Hal ini sama seperti yang dikemukakan oleh Piaget mengenai konsep asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Mahasiswa tidak pernah mengikuti ujian online sehingga mereka mencoba memasukkan informasi ke dalam skema mereka (asimilasi). Mungkin beberapa mahasiswa mengalami kebingungan dan hambatan dalam pelaksanaannya. Kemudian terjadilah proses equilibrasi (mencoba menyeimbangkan skema mereka) dimana mereka mencoba mengubah skema mereka dimana ujian tidak hanya dengan lembar jawaban tetapi bisa juga dilakukan dengan online (akomodasi).

• Mahasiswa bisa lebih aktif mencari referensi yang dapat digunakan. Hal ini sesuai dengan teori Bruner dan konstruktivistik dimana setiap individu harus aktif mencari informasi yang dapat digunakan dalam proses belajarnya.

Wednesday, December 1, 2010

Pendekatan dengan teori Thorndike

Salah satu teori yang dapat menjelaskan proses persiapan uji coba ujian ini adalah teori Thorndike yaitu Law of Readiness / Hukum Kesiapan. Thorndike mengemukakan jika seorang individu belum siap untuk melakukan sesuatu maka rasanya tidak memuaskan dan sebaliknya jika individu siap maka rasanya akan memuskan. Saya merasa untuk persiapan dalam hal materi, usaha saya masih terlalu sedikit sehingga untuk menghadapi uji coba ini, saya merasa belum begitu siap dan takut kalau saya tidak dapat mengerjakan dengan baik dan hasilnya tidak maksimal.

Referensi :
Hergenhahn, B.R & Olson, M.H. 2008. Theories of Learning . Edisi ke-7. Jakarta : Kencana Prenada Mulia


Kesan Uji Coba Ujian Online

Awalnya saya mengalami sedikit kesulitan karena saya tidak memiliki laptop dan modem. Namun akhirnya saya berhasil meminjamnya dari abang saya dengan usaha yang cukup mudah. Untuk persiapan dalam materi, saya baru membaca beberapa teori belajar sehari sebelumnya. Sebenarnya saya sendiri merasa persiapan saya untuk uji coba ini masih kurang.

Sebelum masuk kelas, saya mendapat pesan dari komting untuk lebih cepat sampai ke kampus supaya nantinya lebih mudah dalam pengaturan untuk masuk ke group chat. Saya mengalami masalah dimana abang saya ternyata menggunakan laptop sampai lowbat sehingga saya memutuskan untuk men-charge baterai di kampus. Setelah sampai di kampus, saya mencoba menambahkan/add teman yang belum berada dalam kontak gmail.

Wednesday, November 17, 2010

Laporan Observasi di IBBI


Download Link

Lokasi observasi
STIE IBBI
Jl. Sei Deli No. 18
Telp. (061) 4567111
Fax. (061) 4527548
Medan - 20114
Indonesia

Waktu observasi
Observasi dilakukan pada hari Selasa, 16 November 2010.
Waktu observasi pukul 11.05 WIB - 12.20 WIB.

Subjek yang diobservasi
Ø Dosen : Ms. Arinda
Ø Mahasiswa S1 Akuntansi yang berjumlah 28 orang dan sedang mengikuti mata kuliah Bahasa Mandarin.

Objek observasi
Ø Suasana kelas pada saat mata kuliah Mandarin berlangsung
Ø Interaksi dosen dan mahasiswa

Uraian hasil observasi
Pukul 11.05 WIB, dosen masuk ke kelas. Suasana kelas masih belum tenang. Dosen menugaskan ketua kelas untuk memfotokopi bahan/materi yang akan dipelajari hari itu. Kelas masih ribut, dosen berusaha menenangkan. Dosen meminta mahasiswa mengumpulkan tugas yang diberikan minggu lalu. Kelas kembali ribut dan dipenuhi suara protes. Beberapa mahasiswa maju dan mengumpulkan tugas teman-temannya. Mahasiswa lain sibuk berbicara dengan temannya. Dosen meminta mahasiswa menghapal angka 1 – 10 dalam bahasa Mandarin. Setiap minggu sebelum memulai materi baru, dosen menyuruh mereka untuk menghapalnya. Dosen mengatakan bahwa dia akan meminta mahasiswa maju satu per satu ke depan untuk melafalkannya di depan kelas. Ketua kelas kembali dan membagikan bahan kepada temannya.

Dosen mengoreksi tugas yang sudah dikumpulkan. Kelas sangat ribut. Dosen menenangkan dan meminta seorang mahasiswa maju ke depan untuk menghafal angka 1 – 10. Kemudian, satu per satu mahasiswa dipanggil. Seorang mahasiswa yang disuruh maju terlihat gugup. Mahasiswa tersebut salah melafalkan dan teman-temannya menertawakannya.

Materi yang diajarkan pada hari itu adalah mengenai ”goresan” aksara mandarin. Dosen mencatat materi di papan tulis. Mahasiswa di barisan depan terlihat sibuk mencatat. Sementara mahasiswa di barisan belakang terlihat mengobrol. Dosen meminta ketua kelas untuk mengisi tinta spidol. Mahasiswa yang lain masih sibuk mencatat. Dosen berkeliling memeriksa catatan siswa dan mengoreksi tulisan yang salah. Seorang mahasiswa bertanya kepada dosen. Teman di sampingnya menyindir dengan mengatakan bahwa pertanyaan yang diajukan sangat mudah. Dosen mulai berjalan kembali ke depan. Sementara mahasiswa mencatat, dosen mengabsen mahasiswanya. Spidol selesai diisi. Dosen kembali mencatat di papan tulis. Kelas kembali ribut.

Setelah dosen selesai mencatat, dosen menyuruh mahasiswa melanjutkan mencatat. Setelah semua selesai, dosen membaca aksara mandarin di papan tulis. Dosen membaca sekali dan memberikan instruksi agar mahasiswa ikut membaca. Dosen kemudian menjelaskan dan mahasiswa serius mendengarkan. Kemudian dosen meminta mahasiswa membaca sekali lagi dan dosen mengoreksi apabila ada kesalahan. Setelah selesai, dosen memuji mahasiswa. Mahasiswa bersorak gembira. Kelas kembali ribut.

Dosen membahas bersama mahasiswa beberapa contoh yang ada di papan tulis. Untuk tiap goresan, dosen memberikan satu contoh aksara mandarin, misalnya untuk goresan 一 (heng2) dosen memberi contoh aksara 六 (liu4 ; enam). Ketika dosen menerangkan cara penulisan dari aksara, seorang mahasiswa bertanya untuk menegaskan apa yang dijelaskan oleh dosen. Dosen kembali menerangkan dan sesekali bertanya kepada mahasiswa. Kemudian dosen me-review sekali lagi materi yang sudah diajarkan.

Dosen kemudian menyuruh mahasiswa mencatat di buku tugas dan mahasiswa diberi tugas untuk latihan menulis aksara Mandarin yang diajarkan hari ini. Dosen menuliskan contoh di salah satu buku tulis mahasiswa dan kemudian buku tulis itu di-passing ke belakang. Mahasiswa tampak sibuk menulis dan dosen berkeliling memeriksa pekerjaan mereka.

Di sela-sela menunggu mahasiswa menulis, dosen bertanya apakah mahasiswa menyukai materi yang diajarkan pada hari itu. Seorang mahasiswa tampak bercanda dan membuat teman-temannya tertawa. Setelah itu, dosen tetap menunggu mahasiswa menulis. Pekerjaan mahasiswa selesai dan dosen menyudahi perkuliahan pada pukul 12.20 WIB.

Telaah Hasil Observasi Menurut Teori Belajar
1. Teori Thorndike

Salah satu konsep Thorndike yang dapat menggambarkan proses belajar yang terjadi dalam kelas adalah Law of Practice / Hukum Latihan.

Contohnya :
1. Setiap minggu sebelum masuk kelas, dosen akan meminta mahasiswa menghapal angka 1-10 dalam bahasa Mandarin. Dosen melatih mahasiswa agar dapat mengingat konsep tersebut.

2. Ketika dosen membaca aksara di papan tulis, dosen memberikan instruksi agar mahasiswa mengikutinya. Setelah itu, dosen meminta mahasiswa mengulanginya sendiri selama beberapa kali.

3. Selesai membaca, dosen memberikan tugas untuk menulis beberapa aksara di buku tugas. Mahasiswa ditugaskan untuk berlatih menulis di rumah.

Prinsip Thorndike lain yang bisa ditemukan dalam proses pembelajaran yang diobservasi adalah ’belajar bersifat incremental (bertahap)’. Dosen pertama mengajarkan ejaan terlebih dahulu untuk membantu mahasiswa dalam melafalkan aksara mandarin. Kemudian dosen mengajarkan goresan mandarin yang menyusun suatu aksara mandarin. Dalam pelajaran goresan dijelaskan bagaimana bentuk goresan, bagaimana pelafalannya dan bagaimana tata cara penulisannya.

2. Teori Bandura

Belajar dapat terjadi melalui modeling. Proses modeling dapat dilihat ketika mahasiswa mengikuti dosen yang sedang membaca aksara di papan tulis. Ketika diminta mengulanginya, sebagian mahasiswa sudah bisa melakukannya dengan baik.

Untuk membuat bahan yang diajarkan lebih mudah diterima dan diserap, dosen melakukan tahap dibawah ini :

1. Proses atensional
Pertama, dosen berusaha menenangkan kelas yang masih ribut sejak dosen masuk. Dosen berusaha memastikan semua mahasiswa memperhatikan ke depan agar informasi yang akan disampaikan bisa dipahami oleh semua mahasiswanya. Setelah semua mahasiswa tampak memperhatikan, barulah dosen memulai pelajaran.

2. Proses retensional
Proses ini adalah proses yang terjadi di dalam diri individu. Ini adalah tahapan dimana informasi yang disampaikan oleh dosen disimpan untuk digunakan nanti. Jenis simbolisasi pada tahap ini adalah simbolisasi verbal dimana informasi yang disimpan adalah informasi yang disampaikan oleh dosen secara verbal atau dalam bentuk kata-kata.

Bandura mengatakan guru harus mempertimbangkan kemampuan verbal siswa saat akan merencanakan modeling. Dosen mempertimbangkan kemampuan verbal mahasiswa. Ada mahasiswa yang belum fasih berbahasa mandarin. Oleh karena itu, dalam menjelaskan, dosen menggunakan dua bahasa. Hal ini akan membantu proses retensional.

3. Proses pembentukan prilaku
Setelah sesuatu diperhatikan dan disimpan, dosen harus mempertimbangkan ketrampilan motorik yang dibutuhkan untuk memproduksi ketrampilan yang telah dipelajari tersebut, dalam hal ini ketrampilan untuk mengucapkan aksara mandarin dengan tepat. Untuk memastikan mahasiswa menguasai ketrampilan itu, pada pertemuan sebelumnya dosen telah mengajarkan ejaan mandarin kepada mahasiswanya.

4. Proses motivasional
Dosen memuji mahasiswa untuk memotivasi mereka agar ketrampilan yang telah dipelajari diproduksi dalam bentuk prilaku.

3. Teori Skinner

Dosen di dalam kelas memberikan positive reinforcement kepada mahasiswa. Misalnya, ketika mereka selesai membaca aksara di papan tulis, dosen memuji bahwa intonasi mereka sudah bagus. Dengan adanya pujian tersebut tentunya akan memunculkan rasa bangga dan motivasi dalam diri mereka.

4. Teori Ausubel

Struktur kognitif yang dimiliki setiap individu berbeda-beda. Menurut Ausubel, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar adalah masalah budaya. Berdasarkan hasil observasi, terlihat beberapa mahasiswa sudah lebih fasih dalam bahasa Mandarin. Dalam hal ini, terdapat beberapa kemungkinan yaitu mungkin beberapa mahasiswa sudah pernah mempelajari Mandarin sebelumnya di sekolah atau kursus tertentu. Mungkin juga dalam kehidupan sehari-hari, mereka menggunakan bahasa Mandarin untuk berkomunikasi. Sebagian lagi masih merasakan kesulitan dikarenakan mungkin mereka tidak pernah mendapatkan pelajaran Mandarin sebelumnya. Hal ini diperhatikan oleh dosen dalam mengajar. Saat mengajar, dosen lebih memperhatikan beberapa mahasiswa yang memang belum pernah belajar bahasa Mandarin sebelumnya.

Model pembelajaran yang terjadi dalam kelas adalah rote reception learning. Mahasiswa mempelajari Mandarin dengan menghafal dan tidak mengaitkan apa yang sudah dipelajari dengan sesuatu yang bermakna. Selain itu, mahasiswa juga hanya menerima apa yang disampaikan oleh dosen dan tidak belajar dengan mencari tahu sendiri.

Dalam catatan yang dituliskan dosen di papan tulis, terdapat kolom ’contoh’. Dari sini kita bisa melihat bahwa dosen menggunakan derivative subsumption. Dosen memberikan contoh dari konsep yang sedang dipelajari. Hal yang kurang adalah dosen tidak mengaitkan semua contoh dengan sesuatu yang bermakna sehingga ada kemungkinan mahasiswa akan sulit mengingat. Hanya beberapa contoh yang dikaitkan dengan materi pelajaran yang lalu yaitu dosen mengaitkan goresan 一 (heng2) dengan aksara 六 (liu4 ; enam) yang telah dipelajari sebelumnya.

5. Teori Piaget

Dengan mengaitkan hasil observasi dengan teori Piaget, bisa dilihat bahwa ketiga proses kognitif terjadi, yaitu :

1. Asimilasi
Asimilasi adalah pencocokan atau penyesuaian antara struktur kognitif dengan lingkungan fisik. Bagi mahasiswa yang sebelumnya telah pernah belajar Mandarin, mereka melakukan proses asimilasi yaitu mencocokan ide sebelumnya dengan ide baru yang sedang diajarkan oleh dosen.

2. Akomodasi
Akomodasi adalah memodifikasi struktur kognitif agar sesuai dengan lingkungan. Untuk mahasiswa yang belum pernah mempelajari bahasa Mandarin sebelumnya, mereka melakukan proses akomodasi. Struktur kognitif dimodifikasi dengan memasukkan informasi baru yang diajarkan dosen.

3. Equilibrasi
Jika struktur kognitif mahasiswa ada yang berbeda dengan apa yang sedang diajarkan oleh dosen, maka mahasiswa itu akan melakukan equilibrasi.

6. Teori Pask

Jenis conversation yang terjadi dalam kelas yaitu :

Monolog. Monolog terjadi pada mahasiswa setelah mendengarkan penjelasan dari dosen mungkin menginternalisasi informasi yang telah disampaikan.

Dialog. Dialog terjadi ketika dosen bertanya apakah mahasiswa menyukai apa yang telah mereka pelajari hari ini.

Dialektik. Mahasiswa melakukan conversation untuk mencari kebenaran dengan bertanya pada dosen.

Construction. Semua yang diajarkan oleh dosen pada mata kuliah ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang baru mengenai bahasa Mandarin.

Kesimpulan

Proses observasi berlangsung dengan baik. Kami dapat melihat bagaimana sebenarnya sistem perkuliahan di perguruan tinggi swasta, bagaimana cara mengajar seorang dosen, bagaimana respon dari mahasiswanya, dan bagaimana interaksi dari keduanya.

Setelah melakukan observasi, kami melakukan proses penyusunan laporan. Kami melakukan diskusi online untuk membahas apa saja teori yang dapat digunakan untuk dapat dikaitkan dengan hasil observasi.

Daftar pustaka
B. R. Hergenhahn & Matthew H. Olson (2009). Theories of Learning. Edisi Ketujuh. Jakarta : Kencana
Driscoll, Marcy P.1994. Psychology of Learning for Instruction. Boston : Allyn and Bacon


Testimoni Perencanaan, Pelaksanaan hingga Penyelesaian tugas
Testimoni Marisa

Sebelum menentukan hendak observasi di IBBI, kami telah mengunjungi dua fakultas di USU, diantaranya Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Namun, kedua fakultas itu meminta surat pengantar untuk dapat memproses permintaan kami. Pada saat kami pergi meminta izin (Senin, 15 November 2010) waktu sudah tidak memungkinkan untuk mengurus surat pengantar.

Pada saat itu, saya teringat kakak saya yang bekerja sebagai staf pengajar di IBBI. Kemudian saya segera menghubunginya untuk bertanya apakah memungkinkan bila kami observasi disana. Jawaban dari IBBI datang 3 jam setelahnya dan kami diminta datang observasi hari Selasa, 16 November 2010 pukul 11.00 WIB.

Secara umum, observasi di universitas lain sangat menyenangkan. Kami bisa mengetahui bagaimana proses pembelajaran di universitas lain yang selama ini hanya kami dengan lewat cerita teman. Apalagi universitas yang kami kunjungi adalah universitas swasta yang tentu saja berbeda dengan USU yang merupakan Universitas Negeri.

Setelah observasi, dimulailah proses menulis laporan. Dengan menulis laporan, kami belajar banyak dan kembali mendalami semua teori belajar yang telah dipelajari sebelumnya.

Testimoni Calvina

Waktu untuk perencanaan observasi cukup mendesak. Hari Senin tanggal 15 November 2010, kami pergi ke 2 fakultas untuk meminta izin observasi. Kedua fakultas meminta surat untuk memproses izin kami. Ternyata Marisa mempunyai kenalan yang bekerja di IBBI. Kami diperbolehkan untuk melakukan observasi esok harinya.

Observasi dilakukan ketika mata kuliah mandarin. Banyak hal-hal lucu yang terjadi di dalam kelas. Sambutan dari dosen dan mahasiswa disana juga cukup baik. Observasi di IBBI menyenangkan. Untuk menyelesaikan laporan, kami memutuskan untuk melakukan diskusi online.

Dokumentasi



Laporan Observasi Fakultas Sastra Jepang


Lokasi observasi
Fakultas Sastra USU
Jalan Universitas 19
Medan 20155
Tel. +62 61 8220840
Fax.+62 61 8215956

Waktu observasi
Hari / Tanggal : Rabu / 10 November 2010
Waktu : 08.05- 09.35 WIB

Subjek observasi
 Dosen : Bu Murni
 Mahasiswa Program Studi Sastra Jepang Semester 5 berjumlah 26 orang yang sedang mengikuti mata kuliah Tata Bahasa Jepang.

Objek observasi
 Suasana kelas pada saat mata kuliah berlangsung
 Interaksi dosen dan mahasiswa


Uraian hasil observasi
Dosen memasuki kelas pada pukul 08.05. Mahasiswa yang hadir masih berkisar 12 orang. Sebelum memulai perkuliahan, dosen mengabsen satu-persatu mahasiswanya. Setelah itu, dosen mulai berbicara dengan mahasiswanya menggunakan bahasa Jepang.

Dosen menerangkan materi 2 minggu lalu. Dosen mencoba meminta mahasiswa mengingat materi tersebut dan kemudian meminta beberapa mahasiswa memberikan contoh sehubungan dengan materi tersebut. Beberapa mahasiswa terlihat bingung ketika dosen menjelaskan. Kemudian salah seorang mahasiswa bertanya kepada dosen. Dosen menjelaskan kembali.

Kemudian dosen menyuruh mahasiswa membuka buku dan menyuruh satu persatu mahasiswa secara bergiliran menjawab soal di buku. Ketika kuliah berlangsung (pukul 08.30) beberapa mahasiswa yang terlambat terlihat memasuki kelas tanpa ditegur oleh dosen. Dosen mulai berjalan ke belakang dan menyuruh mahasiswa di barisan belakang untuk mulai membacakan dan menjawab soal di buku.

Memasuki materi baru, dosen memberikan waktu beberapa menit kepada mahasiswa untuk mengerjakan soal di buku. Setelah itu, dosen mulai berbicara lagi kepada mahasiswanya. Untuk materi yang baru, dosen meminta mahasiswa untuk aktif memberikan pendapat. Materinya mengenai ” Apa yang harus diperhatikan seseorang ketika jalan-jalan ke suatu daerah tertentu?”. Beberapa mahasiswa diminta oleh dosen untuk menuliskan jawaban mereka di papan tulis. Ketika itu, ada beberapa mahasiswa terlihat berdiskusi, ada yang mengobrol dengan teman di sampingnya. Suasana kelas mulai ribut sementara dosen sedang berbicara dengan mahasiswa di barisan depan.

Setelah beberapa mahasiswa selesai menulis, dosen mulai membahas jawaban di papan tulis. Ketika ada jawaban yang salah penulisannya, dosen akan memperbaikinya langsung. Beberapa mahasiswa di barisan depan terlihat fokus mendengarkan. Beberapa siswa yang duduk di barisan belakang, terlihat sibuk dengan kerjaannya sendiri, ada yang bercerita dengan teman didekatnya, ada yang menghadap keluar jendela.

Dosen mulai memasuki materi baru lagi. Sama seperti sebelumnya, dosen memberikan waktu untuk menjawab soal di buku sambil sesekali dosen berjalan ke belakang untuk melihat hasil pekerjaan mahasiswa. Dosen membahas beberapa soal di buku dengan meminta mahasiswa membacakan jawaban mereka.

Setelah semua materi selesai, dosen mengakhiri perkuliahan dengan menanyakan kepada mahasiswa apakah ada sesuatu yang tidak jelas. Seorang mahasiswa bertanya dan ditanggapi dosen. Setelah itu, dosen mengakhiri perkuliahan yang berlangsung 2 SKS tersebut.

Telaah hasil observasi menurut teori belajar

A. Teori Pask

Teori Pask yang terkenal adalah Conversation Theory. Conversation adalah pembicaraan dimana terjadi pertukaran informasi dan ide antara dua orang atau lebih. Conversation dalam konteks edukasi biasanya meliputi pertukaran ide dan proses mental antara pembicara dan pendengar.

Observasi kali ini dapat dikaitkan dengan teori conversation Pask. Dapat dilihat dalam kelas, dosen banyak melakukan tanya jawab dengan mahasiswa. Dosen meminta mahasiswa membacakan dan menjawab soal di buku. Ketika terjadi kesalahan, dosen akan mengoreksinya secara bersama-sama dengan mahasiswa untuk mendapatkan jawaban yang benar.

B. Teori Ausubel
Salah satu konsep Ausubel yang dapat dikaitkan dengan observasi yang dilakukan adalah mengenai derivative subsumption. Dalam derivative subsumption, kita mempelajari contoh-contoh baru untuk lebih memperjelas konsep yang telah dimiliki sebelumnya.
Selama perkuliahan berlangsung dan ketika memasuki materi-materi baru, dosen selalu meminta mahasiswa untuk memberikan contoh-contoh. Dengan adanya contoh-contoh baru, pemahaman mahasiswa mengenai suatu materi akan menjadi lebih jelas dan lebih dapat dimengerti.


C. Teori Piaget

Konsep Piaget mengenai asimilasi, akomodasi dan equilibrasi dapat dilihat dalam uraian hasil observasi. Mahasiswa mendengarkan penjelasan dosen dan menyesuaikan dengan konsep yang ada (asimilasi). Beberapa mahasiswa tampak bingung. Dosen menjelaskan kembali sehingga beberapa mahasiswa tampak lebih mengerti (equilibrasi). Mahasiswa mengubah pemahaman mereka yang terdahulu (akomodasi).

D. Teori Thorndike

Salah satu konsep Thorndike yang dapat menjelaskan proses belajar dalam observasi adalah Hukum kesiapan / Law of Readiness.
Beberapa mahasiswa jelas terlihat masih belum siap untuk belajar. Hal ini dapat dilihat dari keterlambatan mahasiswa dalam memasuki kelas. Mahasiswa yang terlambat tentunya tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan sebelum mereka memasuki kelas. Hal ini tentunya akan lebih menghambat mereka dalam memahami materi yang sedang diajarkan dan juga materi-materi selanjutnya yang berhubungan dengan materi sebelumnya. Hambatan tersebut akan membuat mereka menjadi kurang aktif dan merasa proses belajar yang terjadi kurang menyenangkan.

Kesimpulan sebagai rangkuman dari proses observasi hingga penyelesaian laporan

Dalam observasi, kami mencoba melihat bagaimana proses belajar-mengajar yang terjadi di dalam kelas dan juga bagaimana interaksi antara dosen dan mahasiswa serta bagaimana suasana kelas selama perkuliahan berlangsung.

Untuk menyelesaikan laporan, masing-masing dari kami membuat uraian hasil observasi. Uraian tersebut kemudian digabungkan. Karena waktu tidak cukup dan tidak ada kesempatan untuk bertemu, kami memilih untuk melakukan diskusi online.

Daftar Pustaka
http://en.wikipedia.org/wiki/Gordon_Pask ( 16 November 2010)
Driscoll, Marcy P.1994. Psychology of Learning for Instruction. Boston : Allyn and Bacon
B. R. Hergenhahn & Matthew H. Olson (2009). Theories of Learning. Edisi Ketujuh. Jakarta : Kencana


Testimoni perencanaan, pelaksanaan hingga penyelesaian tugas

Testimoni Calvina
Perencanaan tugas sebenarnya agak membingungkan. Dimulai dari rencana ingin observasi di satu tempat sampai tempat lainnya. Akhirnya waktu terbuang secara percuma. Kemudian akhirnya observasi dilakukan di Sastra Jepang. Dosen dan mahasiswa menggunakan bahasa Jepang dalam berkomunikasi. Tetapi terkadang juga menggunakan bahasa Indonesia. Setelah observasi, masing-masing membuat uraian hasil observasi kemudian digabungkan. Kemudian untuk penyelesaian bagian lainnya, kami memutuskan untuk melakukan diskusi online.

Testimoni Ester
Ketika tugas observasi dibagikan, ternyata kami mendapatkan bagian untuk mengobservasi metode belajar di tingkat perkuliahan. Sejak saat itu kami telah menentukan dimana kami akan melakukan observasi. Pada saat itu kami berunding untuk memilih Universitas mana yang akan kami pilih. Ada beberapa tempat yang kami jadikan pilihan, pertama Fakultas Hukum USU, Univertsitas Prima, Fakultas Kedokteran Universitas Methodis Indonesia (UMI) dan Fakultas Sastra Jepang USU. Kami mencoba mencari tahu bagaimana keadaan yang cocok untuk melakukan observasi. Ada beberapa kendala diantara tempat yang kami tujukan, adanya kurang informasi mengenai fakultas tersebut, adanya ketidak cocokan waktu untuk mengobservasi antara dengan jadwal kuliah kami dengan jadwal kuliah mereka, dan sehingga akhirnya kami memilih Fakultas Sastra Jepang untuk menjalankan observasi kami.

Setelah kami memilih Fakultas Sastra Jepang, kami membuat surat izin dibagian pendidikan untuk ditujukan kepada Fakultas Sastra Jepang. Setelah surat siap, lalu kami mengantarnya kebagian pendidikan Fakultas Sastra Jepang, akan tetapi pada saat itu yang bersangkutan ( Pembantu Dekan III ) tidak ada di tempat. Jadi kami melaporkannya kebagian Sekretariat Fakultas Sastra Jepang. Kami mengajukan surat itu kepadanya, lalu beliau menanyakan tujuan kami untuk melakukan observasi, setelah kami menjelaskan semua, beliau menerima dan langsung memberikan izin kepada kami. Beliau menentukan jadwal dan mata kuliah yang cocok untuk di observasi, beliau memilih mata kuliah Tata Bahasa Jepang berjumlah dua SKS pada hari Rabu, 10 November 2010, pukul 08.00-09.40 WIB. Lalu beliau menghubungi dosen yang mengajar pada mata kuliah tersebut, dan dosen tersebutpun mengizinkan kami untuk melakukan observasi pada jam mengajarnya. Kami sangat senang karena mereka merespon kami dengan baik.

Lalu tibalah harinya. Sebelumnya kami sudah berencana untuk pergi bersama ke Fakultas Sastra Jepang. Pada pukul 07.40 WIB kami telah tiba dikampus, dan kami pun bersama-sama berangkat ke Kampus Fakultas Sastra Jepang. Tiba disana kurang lebih pada pukul 07.55, kami pun mencari lokasinya. Cukup mendapat kesulitan untuk mencari dimana lokasi kelas yang akan kami observasi, dikarenakan Fakultas Sastra itu cukup besar, semua berada dalam satu lingkup, adapun satu gedung itu terdapat beberapa fakultas. Untung saja kami bertanya pada mahasiswa yang ada disekitar itu, lalu mereka pun menunjukan dimana lokasi yang hendak kami tuju.

Kami pun takut telat, karena waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Ketika kami tiba di ruang itu, ternyata masih hanya ada beberapa mahasiswa aja yang berada diruangan itu. Dosen pun belum hadir saat itu. Akhirnya tak lama kemudian tepat pukul 08.05 WIB dosen datang dan masuk kelas, sebelumnya kami meminta izin kembali. Dan ia pun mempersilahkan kami masuk ke ruangan tersebut. Kami memilih duduk di bagian paling belakang, agar tidak mengganggu mereka belajar. Mahasiswanya ramah-ramah, mereka menyapa kami, dan kebetulan ada beberapa siswa yang juga ternyata teman saya di bangku SMA dulu. Untungnya tidak ada kendala selama kami mengobservasi.

Lalu masuk kedalam pembuatan laporan, kami sama-sama mengerjakannya. Dikarenakan ada perbedaan waktu jam kuliah kami sulit untuk menentukan waktu untuk berdiskusi langsung, akhirnya kami memilih berdiskusi online pada malam hari dan dilanjutkan waktu hari libur (Idul Adha).

Foto dokumentasi



















Wednesday, November 3, 2010

Resume Pask dan Landa

Teori Sibernetik

Inti teori sibernetik adalah “sistem informasi” dari apa yang hendak dipelajari dan bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi ini.

Teori sibernetik lebih tertarik pada proses kerja otak dibandingkan dengan pada hasil kerja otak tersebut.

Ada dua tokoh yang akan dibahas berkaitan dengan teori sibernetik yaitu :

1. Lev Landa

  • Belajar adalah proses pengolahan informasi dimana guru yang baik adalah guru yang tahu persis informasi dari materi yang akan dibahas, mengetahui sistem berpikir dari pembelajar dan cara menyesuaikan sistem informasi materi dengan sistem berpikir pembelajar itu.


  • Ada 4 kegiatan pokok dalam proses belajar mengajar menurut teori Landa:

1. Identifikasi proses algoritmik yang mendasari suatu problem solving

2. Mengidentifikasi hal-hal yang tidak dapat di algoritmikkan. Tujuannya adalah agar guru tidak mencampur adukkan antara proses algoritmik dengan non algoritmik.

3. Guru mampu mengajar dengan menggunakan proses algoritmik yang sudah diidentifikasikannya. Artinya, guru tidak boleh mengajar dengan cara yang melompat-lompat.

4. Mengajar pembelajar sedemikian rupa agar mereka mampu mengembangkan pola pikir algoritmik dalam benak mereka, dan diharapkan mereka mampu menyelesaikan persoalan baru yang tidak pernah dibahas dalam pengajaran.

2. Andrew Pask

  • Teori Pask yang paling terkenal adalah Conversation Theory.

  • Proses belajar bergantung pada strategi yang digunakan oleh siswa. Guru bertugas untuk mengarahkan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan ini, guru mungkin menggunakan strategi mengajar tertentu untuk membantu siswa dengan sukses mendapatkan informasi yang harus dipelajari.

  • Salah satu metode yang disarankan Pask adalah tutorial conversation, dimana metode belajar berbentuk diskusi dan proses belajar lebih kepada give and take. Conversational instruction memungkinkan siswa untuk berpartisipasi dalam membuat keputusan. Siswa bisa bertanya, berkomentar dan menekuni bidang yang menjadi minatnya.

  • Satu masalah yang sulit dipelajari oleh siswa adalah cognitive fixity, kecenderungan untuk tetap menggunakan sebuah strategi tertentu walaupun ada bukti yang menunjukkan bahwa strategi ini tidak cocok.

  • Belajar melalui conversation akan memungkinkan efek transfer yang positif. Oleh karena itu, guru harus mengetahui bagaimana membentuk conversation yang berarti untuk proses belajar dan guru juga harus mempunyai pemahaman yang mendalam mengenai materi yang sedang dipelajari.

  • Kompetensi bisa diukur dengan melakukan performansi atau ujian yang relevan dengan apa yang telah dipelajari. dimana pengukuran bisa dilakukan oleh guru, siswa atau teman sebaya. Tanpa pemahaman yang mendalam, guru bisa saja me-label kesalahan yang disebabkan oleh kecerobohan sebagai ketidakpahaman prosedur.

  • Pendekatan lain untuk mengevaluasi adalah dengan menggunakan metode teachback, sebuah metode yang digunakan untuk memastikan murid mengerti topik sampai pada tahap mampu mengajarkan kembali kepada guru.

Referensi :

Luppicini, Rocci. 2008. Handbook of Conversation Design for Instructional Applications. New York : IGI Global.

Luppicini, Rocci. “Introducing Conversation Design”. Handbook of Conversation Design for Instructional Applications, chap 1 pp 1-18. 2008.

Morrow, Jean & Janet Holland. “Pask and Ma Join Forces in an Elementary Mathematics Methods Course”. Handbook of Conversation Design for Instructional Applications, chap XVI pp 252-263. 2008.

[3] W. R. Klemm, Software Issues for Applying Conversation Theory For Effective Collaboration Via the Internet. Manuscript. 2002.

http://karom-kingsoka.blogspot.com/2010/01/teori-belajar-sibernetik-dan.html

(3 November 2010)

http://hendrath-jmr.blogspot.com/2009/12/teori-algo-heuristic-dan-schematic.html

(3 November 2010)

Wednesday, October 27, 2010

Resume Kolb dan Krathwohl

David A. Kolb

Pandangan Kolb terhadap belajar

Kolb adalah seorang ahli dalam aliran humanistik. Beliau mengemukakan empat hal dalam belajar yaitu :

a. Pengalaman Konkrit

Seseorang mampu atau dapat mengalami suatu kejadian sebagaimana adanya. Ia dapat melihat dan merasakannya, dapat menceritakan peristiwa tersebut sesuai dengan apa yang dialaminya. Namun dia belum memiliki kesadaran tentang hakekat dari peristiwa tersebut.

b. Pengamatan Aktif dan Reflektif

Seseorang makin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dilaminya. Ia mulai berupaya untuk mencari jawaban dan memikirkan kejadian tersebut. Ia melakukan refleksi terhadap peristiwa yang dialaminya, dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana hal itu bisa terjadi, dan mengapa hal itu mesti terjadi. Pemahamannya terhadap peristiwa yang dialaminya semakin berkembang.

c. Konseptualisasi

Seseorang sudah mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi obyek perhatiannya. Berpikir induktif banyak dilakukan untuk memuaskan suatu aturan umum atau generalisasi dari berbagai contoh peristiwa yang dialaminya. Walaupun kejadian-kejadian yang diamati tampak berbeda-beda, namun memiliki komponen-komponen yang sama yang dapat dijadikan dasar aturan bersama.

d. Eksperimentasi Aktif

Seseorang sudah mampu untuk mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan kedalam situasi yang nyata. Berpikir deduktif banyak digunakan untuk mempraktekkan dan menguji teori-teori serta konsep-konsep dilapangan. Ia mampu menggunakan teori atau rumus-rumus untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.


David R. Krathwohl

Tingkatan Ranah Afektif

Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu:


1. Receiving

Pada tingkat ini, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya, pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.

2. Responding

Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.


3. Valuing

Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen.Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.


4. Organization

Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.

5. Characterization

Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization. Pada tingkat ini, peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.

Referensi

http://doditsfoundation.blogspot.com/2008/03/teori-belajar-humanistik.html

http://education-mantap.blogspot.com/2009/12/penilaian-ranah-afektif.html

Saturday, October 23, 2010

Resume Piaget dan Vygotsky

Jean Piaget


Konsep Teoritis Utama

Ada beberapa konsep yang dikemukakan Piaget yaitu :

1. Intelegensi

Menurut Piaget, intelegensi merupakan ciri bawaan yang dinamis sebab tindakan yang cerdas akan berubah saat organisme semakin matang dan mendapat pengalaman. Dengan kata lain, intelegensi adalah sesuatu yang selalu berubah-ubah karena individu mengalami tahap perkembangan dan individu mendapat pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan sekitarnya.

2. Schemata

Skema adalah struktur kognitif yang dimiliki seorang individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam skema, terdapat content / isi.

Misalnya : Skema à pergi ke dokter. Content à mengambil nomor antrian, duduk menunggu antrian, dipanggil masuk ke ruang periksa, dan lain-lain.

3. Asimilasi dan Akomodasi

Asimilasi adalah proses merespons lingkungan sesuai dengan skema yang dimiliki yaitu dengan melakukan pencocokan atau penyesuaian terhadap skema.

Akomodasi adalah proses memodifikasi skema.

4. Ekuilibrasi

Ekuilibrasi adalah proses yang terjadi karena ketidakseimbangan struktur kognitif.

5. Interiorisasi

Penurunan ketergantungan pada lingkungan fisik dan meningkatnya penggunaan struktur kognitif. Hal ini berjalan sesuai dengan tahap perkembangan dimana pada awalnya anak akan sangat mengandalkan lingkungan untuk memahami dunia dan sampai pada akhirnya, individu akan lebig menggunakan konsep-konsep yang abstrak.


Tahap-Tahap Perkembangan

1. Tahap Sensorimotor (lahir sampai 2 tahun)

Pada tahap ini, anak belum bisa berbicara. Anak masih egosentris dan di akhir tahap ini anak akan mengembangkan konsep object permanence (anak menyadari bahwa suatu objek tetap ada meskipun mereka tidak melihatnya)

2. Tahap Praoperasional (2 sampai 7 tahun)

Tahap ini terbagi menjadi dua yaitu :

  1. Pemikiran prakonseptual

Anak mulai membentuk konsep sederhana. Mereka mengklasifikasi objek berdasarkan kemiripannya tetapi melakukan banyak kesalahan. Misalnya, semua perempuan adalah ”ibu”. Selain itu, logika mereka transduktif.

  1. Periode pemikiran intuitif

Anak memecahkan masalah secara intuitif. Anak gagal mengembangkan konservasi (kemampuan menyadari bahwa jumlah, panjang, isi atau luas akan tetap sama meskipun direpresentasikan ke dalam bentuk berbeda-beda)

3. Tahap Operasional Konkrit (7-12 tahun)

Anak mulai mengembangkan kemampuan konservasi, melakukan pengurutan (dari yang terkecil sampai terbesar atau sebaliknya), dan menangani konsep angka.

4. Tahap Operasional Formal (12-15 tahun)

Anak tidak lagi tergantung pada hal-hal konkret dan mulai dapat berpikir logis.


Kondisi Optimal Untuk Belajar

Informasi harus disajikan sedemikian rupa sehingga dapat diasimilasikan ke dalam struktur kognitif tetapi pada saat yang sama ia harus berbeda agar menimbulkan perubahan dalam struktur kognitif tersebut.

Seseorang harus menentukan jenis struktur kognitif apa yang tersedia bagi individu dan pelan-pelan mengubah struktur ini sedikit demi sedikit. Karena alasan inilah Piaget mendukung hubungan tatap-muka antara guru dan murid.


Lev S. Vygotsky

The Social Formation of Mind

Seperti Bruner, Vygotsky berusaha memahami pembentukan intelektual dengan memberikan perhatian pada proses perkembangan. Dia juga percaya bahwa perkembangan individu tidak dapat dipahami tanpa adanya pengaruh dari faktor sosial dan budaya.


Vygotsky’s Developmental Method

Natural Process of Development

Vygotsky melakukan eksperimen dengan observasi pada sejumlah anak ketika mereka melakukan berbagai aktivitas. Penekanan dari eksperimen ini adalah untuk melihat proses dari apa yang dilakukan anak-anak tersebut. Dengan kata lain, Vygotsky bukan ingin melihat seberapa baik performa yang dilakukan anak melainkan apa saja yang dilakukan anak dalam kondisi untuk memenuhi tugas.


Phylogenetic Comparisons

Faktor budaya dan sosial penting untuk dipertimbangkan untuk memediasi perkembangan kemampuan intelektual manusia.


Sociocultural History

Vygotsky mempertimbangkan perkembangan intelektual merupakan internalisasi tool budaya seseorang. Tools muncul dan berubah sebagaimana kultur/budaya berkembang.


The Social Origins of Higher Mental Processes

Internalization

Menurut Vygotsky, pertama-tama anak melakukan segala sesuatu dalam konteks sosial dengan orang lain dan bahasa membantu proses ini dalam banyak hal. Lambat laun, anak semakin menjauhkan diri dari ketergantungannya kepada orang dewasa dan menuju kemandirian bertindak dan berpikir. Pergeseran dari berpikir dan berbicara nyaring sambil melakukan sesuatu ke tahap berpikir dalam hati tanpa suara disebut internalisasi


The Zone of Proximal Development

Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.


Scaffolding

Scaffolding adalah proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui zona perkembangan proksimalnya.


Referensi

Hergenhahn, B.R & Olson, M.H. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). edisi ke-7. Jakarta : Kencana Prenada Mulia

Driscoll, Marcy P. 1994. Psychology of Learning for Instruction. Boston : Allyn and Bacon

http://robertsumardi.wordpress.com/2008/09/11/implikasi-teori-psikologi-piaget-vygotsky-dan-bruner-dalam-pembelajaran-bahasa-inggris/

http://valmband.multiply.com/journal/item/11

Wednesday, October 13, 2010

UTS Psikologi Belajar

Jawaban UTS dapat diunduh dengan dengan menekan klik pada

Calvina 08-065

Terima Kasih.

Saturday, October 2, 2010

Penerapan Gagne dalam Wawancara

Robert Gagne adalah tokoh dengan pendekatan ekletik dimana beliau menggunakan pendekatan behavioris dan kognitif dalam teorinya. Beliau memberikan kontribusi tentang dalam teori belajar dan juga pembelajaran dimana ada tentang tipe belajar, hasil belajar, dan juga fase belajar.

Kali ini, saya akan mencoba mengaitkan teori Gagne yaitu mengenai fase belajar pada salah satu mata kuliah yang pernah saya ikuti yaitu mata kuliah Wawancara. Alasan saya mengaitkannya dengan mata kuliah ini adalah karena menurut saya mata kuliah ini sesuai dengan prinsip Gagne.

Delapan fase belajar Gagne dan Penerapannya dalam Mata Kuliah Wawancara

  1. Motivation

Seorang individu harus terlebih dahulu memiliki motivasi untuk belajar.Motivasi dapat dibangkitkan secara internal ataupun eksternal/melalui pengajar.

Saya mengambil mata kuliah Wawancara adalah karena mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib. Sebelumnya saya tidak tahu akan mempelajari apa dalam mata kuliah ini. Di pertemuan pertama, dosen menjelaskan kontrak kuliah yang didalamnya menjelaskan aturan kuliah dan termasuk didalamnya tujuan dari mata kuliah ini. Setelah mendengar penjelasan tersebut, saya menjadi termotivasi untuk mengetahui lebih banyak mengenai wawancara karena wawancara merupakan salah satu keterampilan yang penting dalm dunia kerja.

  1. Apprehending

Materi-materi dalam perkuliahan pertama sekali disajikan dalam ceramah dan kemudian presentasi per kelompok. Dimana setiap kelompok mendapat topik berbeda untuk presentasi. Dalam presentasi, saya mendengarkan dan mendapat informasi-informasi baru.

  1. Acquistion

Informasi yang didapatkan kemudian diproses dan dikodekan.

  1. Retention

Informasi yang dikodekan kemudian disimpan

  1. Recall

Memanggil kembali informasi yang ada

Beberapa minggu menjelang ujian akhir, kami diberi tugas untuk melakukan wawancara dengan teman dimana ada yang bertugas sebagai observer, interviewer, dan juga interviewee. Dimana dalam tugas tersebut, kami perlu mengingat kembali dasar dalam wawancara dan teknik-teknik dalam melakukannya.

  1. Generalization

Dalam fase ini, terjadi transfer of learning. Kami mencoba memikirkan cara bagaimana mengaplikasikan apa yang telah kami pelajari.

  1. Performance

Fase ini adalah fase menampilkan proses-proses sebelumnya.

Setelah menjalani keenam proses sebelumnya, kami melakukan praktikum wawancara secara berkelompok. Dalam praktikum, wawancara yang dilakukan direkam dan setelah itu kami membuat makalah mengenai analisis wawancara yang telah dilakukan.

  1. Feedback

Feedback adalah suatu evaluasi terhadap performance.

Sebenarnya dalam mata kuliah ini, feedbacknya tidak terlihat. Setelah membuat makalah, kami mengumpulkannya ketika ujian akhir.

Daftar Pustaka

Bigge, Morris L. 1982. Learning Theories for Teachers 4th Ed. New York : Harper & Row.

Belajar Menurut Bruner

Jerome S. Bruner, salah seorang tokoh ekletik menggunakan pendekatan discovery learning dimana seorang individu mencari dan menemukan sendiri informasi berkenaan dengan materi yang dipelajari. Jika dikaitkan dengan pengalaman selama belajar di psikologi sampai sejauh ini pendekatan discovery learning tersebut masih jarang saya gunakan. Misalnya saja, ketika akan menghadapi suatu presentasi dimana ada beberapa bagian yang tidak saya mengerti. Untuk mengatasi kesulitan itu, saya akan mencari tahu melalui teman ataupun beberapa sumber dari internet.

Ada beberapa mata kuliah yang benar-benar sesuai dengan pendekatan discovery learning yaitu mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa untuk turun langsung ke lapangan. Salah satu contohnya adalah mata kuliah Paedagogi. Ketika itu, ada beberapa materi mengenai basis pembelajaran yang akan dibahas. Mahasiswa dibagi kedalam kelompok-kelompok dan mendapatkan topik yang berbeda. Kemudian masing-masing kelompok terjun ke sekolah untuk mendapatkan data langsung dari observasi siswa dan wawancara dengan pihak sekolah. Setelah itu, data yang didapat dianalisis untuk dilihat apakah sekolah yang dikunjungi menerapkan basis pembelajaran tertentu. Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa mahasiswa berusaha mencari/menemukan informasi sendiri.

Proses belajar kognitif yaitu perolehan informasi baru, transformasi pengetahuan, dan evaluasi. Jika dihubungkan dengan contoh diatas, proses belajar kognitif dapat dilihat sebagai berikut. Misalnya saja, sebelum terjun langsung ke lapangan, kami sebagai mahasiswa yang akan melakukan kunjungan pastinya memiliki suatu skema mengenai materi yang bersangkutan sehingga dapat melakukan proses pengambilan data. Setelah mendapat data di lapangan atau dengan kata lain memperoleh informasi baru, informasi baru yang didapatkan harus diubah bentuknya agar sesuai dengan konsep yang telah dimiliki sebelumnya / transformasi pengetahuan. Kemudian, setiap kelompok melakukan presentasi dengan menampilkan gabungan pengetahuan tersebut untuk mendapatkan evaluasi baik itu dari kelompok lain maupun dari dosen.

Mode of representation dibagi menjadi 3 yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Enactive adalah belajar dengan menggunakan benda yang konkret, iconic adalah belajar dengan melihat secara visual, dan symbolic berkaitan dengan bahasa. Mode of representation sendiri dapat diartikan sebagai cara belajar seseorang apakah dengan melakukan langsung, melihat ataupun mendengarkan. Dalam hal ini, saya merasa saya lebih bisa belajar dengan mendengarkan /auditory. Ketika akan menghadapi ujian, saya sering merasa sulit untuk belajar atau memahami jika harus melihat langsung bahan yang diujikan. Namun ketika saya mendengar ada orang berdiskusi atau ketika teman menyampaikan secara langsung apa yang dipelajarinya, saya merasa lebih bisa menangkap inti dari materi yang diujikan.


Daftar Pustaka

Bigge, Morris. 1982. Learning Theories for Teachers. New York : Harper & Row